Powered By Blogger

Senin, 14 Maret 2016

Makalah Tentang Peran Pemuda dalam Membendung Paham Radikalisme di Indonesia.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG
Manusia sebagai makhluk sosial, hidup berdampingan dengan manusia lainnya. Kehidupan manusia yang seringkali diwarnai dengan munculnya berbagai perbedaan memaksa mereka  untuk saling menghargai dan mengisi antar satu dan yang lainnya. Perbedaan tersebut dapat timbul dari berbagai aspek kehidupan, mulai dari sosial, politik, budaya, hingga agama. Adanya rasa egoisme sepihak dan keinginan yang tinggi untuk mempertahankan ideologinya sehingga timbul suatu pemahaman yang mengedepankan kekerasan dan sangat fanatik pada suatu hal.
Perbedaan agama seringkali menimbulkan pertikaian antar manusia, sekalipun mereka beragama yang sama. Salah satu faktor yang menjadi penyebab timbulnya perbedaan tersebut yaitu kesalahan dalam menafsirkan kitab yang digunakan sebagai pedoman hidupnya. Berbagai pahampun muncul di masyarakat akibat adanya perbedaan tersebut.
Text Box: 1Radikalisme merupakan salah satu paham yang berkembang di masyarakat yang menuntut adanya perubahan dengan jalan kekerasan. Jika ditinjau dari sudut pandang keagamaan, Radikalisme dapat diartikan sebagai sifat fanatisme yang sangat tinggi terhadap agama yang berakibat


terhadap sikap penganutnya yang  menggunakan kekerasan dalam mengajak orang yang berbeda paham untuk sejalan dengan paham yang mereka anut.
Salah satu bentuk radikalisme yang mengatasnamakan agama adalah adanya organisasi garis keras seperti Al Qaeda, dan ISIS. Tidak hanya itu, fanatisme buta terhadap paham agama dapat membuat pengikutya menuju kesesatan yang nyata, contohnya adalah Kaum Syiah.
Tentang Syiah di Indonesia, dikemukakan temuan dari beberapa referensi dan fakta di lapangan, khususnya yang terkait dengan syiah rafidhah atau syiah imamiah. Selain itu dikemukakan pula pola penyebaran dan dakwah syiah tersebut dengan berdirinya berbagai organisasi, lembaga, penerbitan, dan perpustakaan-perpustakaan, sebagaimana yang didirikan di beberapa perguruan tinggi islam (Tim Penulis MUI Pusat, 2014: 17)
Adanya berbagai perbedaan dalam pemahaman ilmu agama dan keberadaan pemuda sebagai energi terkuat dalam mempertahankan kesatuan bangsa diharapkan mampu menciptakan kehidupan yang harmonis dan sikap saling menasehati dalam kebaikan serta masyarakat mampu saling menghargai dan meningkatnya rasa toleransi antar umat beragama.
 Pemuda juga diharapkan mampu membendung arus dari berbagai paham yang akan merusak kesatuan dan persatuan banngsa.  Namun realita yang terjadi di masyarakat berbagai perpecahan dan konflik atas nama agama seringkali terjadi.  Padahal agama apapun melarang adanya perpecahan antar umatnya.  
Pemberitaan Indonesia telah mencatat berbagai kasus yang diakibatkan oleh faham radikalisme, seperti  Perusakan fasilitas ibadah, diskriminasi, serta gerakan-gerakan yang melanggar dan menyimpang dari ketentuan agama.  
Apabila masalah ini tidak dapat terselesaikan maka dikhawatirkan perpecahan akan berlanjut dan merusak moral generasi penerus bangsa. Oleh karena itu kami berinisiatif untuk menyusun sebuah karya tulis ilmiah dengan judul Peran Pemuda dalam Membendung Paham Radikalisme di Indonesia.
B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka kami dapat merumuskan masalah sebagai berikut:
1.      Apa faktor penyebab munculnya paham radikalisme di Indonesia?
2.      Bagaiamana upaya membendung paham radikalisme?
3.      Bagaimana peran pemuda dalam membendung paham radikalisme di Indonesia?
C.    TUJUAN  PENULISAN
Berdasarkan rumusan masalah tersebut, maka tujuan yang ingin dicapai dalam penulisan karya tulis ini sebagai berikut :
1.      Mengetahui faktor penyebab munculnya paham radikalisme di Indonesia
2.      Mengetahui upaya untuk membendung paham radikalisme di Indonesia
3.      Mengetahui peran pemuda dalam membendung paham radikalisme di Indonesia






BAB II
PEMBAHASAN

A.    FAKTOR PENYEBAB MUNCULNYA PAHAM RADIKALISME.
Radikalisme sesungguhnya bukan sebuah paham yang muncul begitu saja tetapi faktor pendorong munculnya gerakan radikalisme. Diantara faktor-faktor itu adalah :
1.      Kapitalisme Global dan Problem Kemiskinan
Sistem kapitalisme yang sampai hari ini berkuasa berhasil menciptakan kesejahteraan dengan kemajuan tingkat produktivitas dan kecanggihan teknologi yang semakin tinggi. Sebagai sistem ekonomi, kapitalisme yang diterapkan dunia Barat dinilai merusak dasar-dasar kebudayaan dan menyingkirkan mereka yang lemah secara ekonomi, di samping mampu berkuasa secara politik di level kebijakan negara. Ketidakberdayaan umat Islam terhadap hegemoni ekonomi kapitalisme barat menyebabkan sebagian umat Islam melakukan resistensi.
2.      Pemahaman agama
Text Box: 5Lemahnya pemahaman agama menjadi salah satu faktor mudahnya masyarakat menerima paham ini. Radikalisme ini merupakan sasaran yang tepat bagi orang-orang yang bertujuan menyelewengkan ajaran agama atau mengajarkan paham-paham keagamaan yang sesat. "Umat yang lemah dari segi pemahaman biasabnya mudah tergiur dengan bujukan material untuk melakukan hal-hal yang menyimpang dari ajaran agama. Termasuk tindakan redikalisme," ujar Menag Maftuh Basyuni. Selain itu, masyarakat yang memiliki pengetahuan agama yang lemah dari segi pengamalan perlu diberi sentuhan-sentuhan tasawuf atau penjelasan tentang himatut tasyri'. Sentuhan tersebut dapat mendorong  untuk memahami esensi dari perintah dan larangan agama secara lebih luas. Dari berbagai hasil penelitian,  pengikut tarekat memiliki tingkat kesadaran menjalankan ibadah yang tinggi dan menampakan kesadaran moral yang tinggi pula. Kondisi itu merupakan suatu bentuk sumbangan yang berharga dalam rangka membangun moral bangsa secara umum.
Komitmen komunitas penganut tarekat seperti ini diharapkan senantiasa menjadi contoh penegakan nilai-nilai moral keagamaan dan penghayatan spiritual sehingga tanggung jawab ulama ke depan semakin berat sebab masyarakat saat ini semakin terbuka terhadap pengaruh dari luar akibat kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Peran ulama di lingkungan ponpes juga perlu dipertahankan.   
Selain itu, meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Telah menjadi rahasia umum bahwa radikalisme Islam (dan juga dalam agama-agama lain) lebih sering dimotivasi oleh persoalan-persoalan ekonomi ketimbang masalah agama. Peningkatan kesejahteraan bisa diartikan dengan pemberdayaan ekonomi kerakyatan, peningkatan lapangan kerja, dan pemerataan pendapatan. Untuk mewujudkan semua itu dapat dilakukan, misalnya, dengan memberikan kredit lunak kepada rakyat kecil, reoptimalisasi koperasi, peningkatan industri agraris, dan memberikan pelatihan-pelatihan kerja.
3.      Sosial Politik
Gejala kekerasan “agama” lebih tepat dilihat sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Gerakan yang secara salah kaparah oleh Barat disebut sebagai radikalisme itu lebih tepat dilihat akar permasalahannya dari sudut konteks sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia yang ada di masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Azyumardi Azra 11 bahwa memburuknya posisi negara-negara Muslim dalam konflik utara-selatan menjadi penopong utama munculnya radikalisme. Secara historis kita dapat melihat bahwa konflik-konflik yang ditimbulkan oleh kalangan radikal dengan seperangkat alat kekerasannya dalam menentang dan membenturkan diri dengan kelompok lain ternyata lebih berakar pada masalah sosial-politik.
Dalam hal ini kaum radikalisme memandang fakta historis bahwa umat Islam tidak diuntungkan oleh peradaban global sehingga menimbulkan perlawanan terhadap kekuatan yang mendominasi. Dengan membawa bahasa dan simbol serta slogan-slogan agama kaum radikalis mencoba menyentuh emosi keagamaan dan mengggalang kekuatan untuk mencapai tujuan “mulia” dari politiknya. Tentu saja hal yang demikian ini tidak selamanya dapat disebut memanipulasi agama karena sebagian perilaku mereka berakar pada interpretasi agama dalam melihat fenomena historis. Karena dilihatnya terjadi banyak penyimpangan dan ketimpangan sosial yang merugikan komunitas Muslim maka terjadilah gerakan radikalisme yang ditopang oleh sentimen dan emosi keagamaan.
4.      Emosi Keagamaan
Harus diakui bahwa salah satu penyebab gerakan radikalisme adalah faktor sentimen keagamaan, termasuk di dalamnya adalah solidaritas keagamaan untuk kawan yang tertindas oleh kekuatan tertentu. Tetapi hal ini lebih tepat dikatakan sebagai faktor emosi keagamaannya, dan bukan agama (wahyu suci yang absolut) walalupun gerakan radikalisme selalu mengibarkan bendera dan simbol agama seperti dalih membela agama, jihad dan mati stahid. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan emosi keagamaan adalah agama sebagai pemahaman realitas yang sifatnya interpretatif. Jadi sifatnya nisbi dan subjektif.
Ada sebagian kalangan yang memahami bahwa apa yang dipahaminya merupakan hal yang paling benar. Mereka menganggap bahwa kelompok atau golongannya yang paling benarsendiri. Sementara orang lain yang tak memiliki pandangan yang sama dengannya dinyatakan salah. Mestinya, adanya perbedaan yang muncul di tengah-tengah kehidupan kita dapat diselesaikan dengan melakukan komunikasi dan dialog. Bukannya mengedepankan penyelesaian yang melibatkan kekerasan. Kita mestinya menarik teladan dari tokoh-tokoh Islam terdahulu, seperti Mohamad Natsir, yang meski berbeda pandang dengan tokoh lainnya, namun tetap mengedepankan dialog dan tetap saling menghormati di antara mereka. Mereka memberikan contoh yang bijak dalam menghadapi perbedaan yang ada.
5.      Faktor Kultural
Ini juga memiliki andil yang cukup besar yang melatarbelakangi munculnya radikalisme. Hal ini wajar karena memang secara kultural, sebagaimana diungkapkan Musa Asy’ari 12 bahwa di dalam masyarakat selalu diketemukan usaha untuk melepaskan diri dari jeratan jaring-jaring kebudayaan tertentu yang dianggap tidak sesuai. Sedangkan yang dimaksud faktor kultural di sini adalah sebagai anti tesa terhadap budaya sekularisme. Budaya Barat merupakan sumber sekularisme yang dianggab sebagai musuh yang harus dihilangkan dari bummi. Sedangkan fakta sejarah memperlihatkan adanya dominasi Barat dari berbagai aspeknya atas negeri-negeri dan budaya Muslim. Peradaban barat sekarang ini merupakan ekspresi dominan dan universal umat manusia. Barat telah dengan sengaja melakukan proses marjinalisasi selurh sendi-sendi kehidupan Muslim sehingga umat Islam menjadi terbelakang dan tertindas. Barat, dengan sekularismenya, sudah dianggap sebagai bangsa yang mengotori budaya-budaya bangsa Timur dan Islam, juga dianggap bahaya terbesar dari keberlangsungan moralitas Islam.
B.     UPAYA MEMBENDUNG PAHAM RADIKALISME
Untuk membendung penyebaran paham radikal, antara lain dengan semangat menjalankan nilai-nilai Pancasila yang terbukti sudah menjadi alat pemersatu bangsa. Dengan semangat Pancasila marilah kita rapatkan barisan untuk membendung paham radikalisme dan terorisme demi keutuhan NKRI dan kedamaian di dunia.
Membendung upaya propaganda paham radikal juga dapat melalui media. Peran media menjadi hal yang penting sebagai respon dalam menghadapi ancaman asimetris, mempunyai peranan sangat strategis dan efektif yang dapat mempengaruhi, baik situasi nasional, regional maupun internasional diberbagai bidang. Kekuatan media dapat dijadikan alat untuk merubah persepsi, opini dan kontrol sosial yang mengarah kepada kebijakan publik.
Persepsi dan nilai-nilai yang disampaikan oleh media massa sering kali dianggap sebagai persepsi masyarakat secara keseluruhan. Semakin sering berita tersebut muncul, maka akan semakin besar pengaruh yang akan didapatkan. Melalui berita-berita yang disiarkan, secara tidak langsung telah memberikan referensi kepada masyarakat untuk mempengaruhi keputusan politik, termasuk dalam hal pemberantasan terorisme.
Upaya untuk membendung paham radikal tidak akan berdampak signifikan tanpa bantuan media, baik cetak, elektronik maupun online, karena tanpa kehadiran media, himbauan, fatwa, peringatan dan pemikiran pemangku kepentingan tidak akan ter ekspose ke publik hanya terbatas dikalangan mereka. Media massa merupakan elemen integral dan penting dari masyarakat lokal, nasional, regional, maupun global untuk menyediakan berbagai kebutuhan informasi bagi masyarakat. Karenanya dalam mengatasi akar terorisme yang bermotif ideologis, doktrinal, serta penyebarannya yang bervariasi, sinergitas lembaga aparat keamanan dibantu dengan peran berbagai pihak, tokoh masyarakat, organisasi masyarakat, tokoh politik, tokoh agama, dan kontribusi dari media sangat diperlukan agar paham radikalisme dan terorisme di masyarakat tidak berkembang menjadi kekuatan yang dapat memecah NKRI.

C.    SOLUSI MENANGKAL RADIKALISME
Ada beberapa hal yanga dapat kita lakukan dalam rangkan menangkal paham radikalisme yang dapat merusak cara pandang dan pemikiran kita, antara lain:
1.      Bersilaturrahim dengan Banyak Kalangan
Individu yang tertutup cenderung dapat dengan mudah terpengaruh dengan bentuk-bentuk ajaran radikalisme. Salah satu yang dapat kita lakukan adalah menjalin hubungan silaturrahmi yang positif dengan sebanyak mungkin orang-orang di sekitar kita. Jangan jadi orang yang tertutup. Abdul Wahhab bin Nasir dalam bukunya mengungkapkan bahwa Rasulullah senantiasa menjalin silaturrahim dengan cara mengunjungi kerabat-kerabatnya pada waktu dhuha, seperti kunjungan beliau ke rumah Fahimah dan Ummu Aiman. (2014:55)
Berkaitan dengan Silaturrahmi Amin (2003: 68) mengemukakan bahwa:
Memelihara hubungan yang baik atau harmonis dengan sesama manusia adalah suatu keharusan, dengan demikian kita akan memeroleh berbagai keberuntungan, misalnya rezeki akan bertambah luas, juga kita akan disayangi, tidak hanya oleh penduduk bumi tetapi juga penghuni langit.”

2.      Banyak Membaca Berbagai Referensi
Dalam memahami sebuah ajaran, bila kita hanya mengacu pada satu referensi, maka kecenderungan kita untuk ikut dan menjadi fanatik menjadi lebih besar. Berbeda halnya bila kita banyak membaca buku. Artinya satu hal dengan yang lain dapat kita perbandingkan sehingga kita dapat lebih bijak dalam menyikapi sebuah permasalahan.
3.      Selalu Ingin Memperbaiki Diri.
Dalam kesempatan yang lain Amin juga megungkapkan bahwa “ Bila kita senantiasa berupaya memperbaiki diri, memperbaiki kesalahan, menyempurnakan kelemahan, meningkatkan prestasi, maka berarti kita tergolong orang yang selalu menginginkan hasil atau prestasi yang lebih baik”. (Amin, 2003:76).
4.      Menetapkan Tujuan Hidup
Tujuan hidup merupakan manifestasi dari pikiran kita. Segala sesuatu yang memengaruhi pikiran kita akan menghasilkan tujuan tertentu. Pengaruh itu bisa berasal dari lingkungan, keluarga, trauma masa lalu, tokoh idola, motivasi orang sukses dan kemungkinan lainnya. Misalnya, orang yang trauma terhadap hutang bisa jadi tujuan hidupnya ingin terbebas dari hutang.
Tujuan hidup itu sangat berpengaruh bagi keberadaan kita saat ini dan impian kita di masa depan. Sangatlah penting untuk mengawal proses pencapaian dengan menentukan tujan hidup terlebih dahulu.  (Syihab, 2013:19)

D.    PERAN PEMUDA DALAM MEMBENDUNG PAHAM RADIKALISME
Pemuda Indonesia sebagai generasi penerus bangsa dituntut untuk mampu menciptakan suasana yang nyaman, aman dan kondusif di tengah  perbedaan yang muncul dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.  Bangsa Indonesia membutuhkan peran pemuda sebagai pemersatu keberagaman yang hadir di Indonesia.
Peranan pemuda dalam membendung paham radikalisme dapat dilakukan melalui kerja sacvv   ma dengan tenaga pendidik formal dalam memberikan informasi mengenai nilai-nilai agama yang benar. Tidak hanya memberikan informasi para pemuda yang harus berperan dalam penanaman nilai agama yang benar dalam jiwa para anak bangsa.
Selain itu arus informasi gerakan radikalisme di dunia yang begitu mudah sampai kepada anak bangsa juga menjadi prioritas perhatian pemuda Indonesia. Pemuda hendaknya menjadi pemfilter paham-paham negatif yang menyentuh anak bangsa.
Kurangnya pemahaman masyarakat terhadap bahaya paham radikalisme juga menjadi perhatian para pemuda. Pemuda harus berperan memberikan penyuluhan ataupun sosialisai berkenaan dengan hal tersebut. Informasi akan mudah sampai di masyarakat ketika para pemuda turun langsung ke lapangan berbaur dengan masyarakat dalam penyampaian bahaya paham tersebut. Dengan penyuluhan tersebut masyarakat tidak lagi kebingungan akan hadirnya paham tersebut di sekitarnya, sehingga masyarakat mampu menghindari paham tersebut.
Paradigma masyarakat yang masih menganggap sebuah perbedaan adalah kekacauan juga harus dihilangkan dalam memori ingatan masyarakat. Pemuda mampu berperan dalam proses perubahan paradigma tersebut dengan mengadakan berbagai kegiatan yang mampu mempererat tali silaturahmi antar kelompok masyarakat. Kesenjangan sosial antara kelompok yang satu dengan yang lainnya akan mudah hilang ketika tali silaturahmi terikat erat diantara mereka.
Gerakan gerakan Radikalisme yang beredar di tengah masyarakat juga berperan besar dalam penyebaran paham tersebut. Pada permasalahan ini pemuda dituntut untuk membentuk sebuah organisasi kemanusiaan atau organisasi yang mampu menyibukkan masyarakat ke arah positif. Dengan dibentuknya organisasi kemanusiaan tersebut pemuda berperan sebagai penggerak masyarakat untuk tetap peduli terhadap orang lain yang terkena bencana atau musibah sehingga para pemuda mampu kembali mempererat tali silaturahmi antar kelompok masyarakat.
Peran-peran tersebut akan berjalan ketika dalam diri para pemuda telah tertanam sikap keprihatinan terhadap maraknya kasus perpecahan ataupun pertikaian di masyarakat. Ketika sikap tersebut telah tertanam dalam diri pemuda maka dorongan untuk mempersatukan bangsa Indonesia akan terus digalakkan dan pemuda sebagai unsur terpenting di dalamnya.







BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Peran generasi muda melalui peningkatkan pengetahuan pendidikan dan pemahaman agama pada dasarnya merupakan tempat untuk membendung gerakan radikalisme di Indonesia Ada beberapa hal yanga dapat kita lakukan dalam rangka  menangkal paham radikalisme yang dapat merusak cara pandang dan pemikiran kita, antara lain: bersilaturrahim dengan banyak kalangan, banyak membaca berbagai referensi, selalu ingin memperbaiki diri,  dan  menetapkan tujuan hidup.
Pemuda dituntut untuk membentuk sebuah organisasi kemanusiaan atau organisasi yang mampu menyibukkan masyarakat ke arah positif. Dengan dibentuknya organisasi kemanusiaan tersebut pemuda berperan sebagai penggerak masyarakat untuk tetap peduli terhadap orang lain
B.     SARAN
Dengan selesainya penulisan makalah ini penulis menyarankan kepada pembaca agar:
1.      Senantiasa menjaga silaturrahmi dengan bayak kalangan agar memiliki cara pandang yang luas terhadap sebuah persoalan.
2.      Memperbanyak referensi bacaan agar terbentuk mindset dan wawasan yang luas dalam melihat sebuah persoalan.
3.      Text Box: 16Menetapkan tujuan hidup agar tidak mudah terpengaruh paham dan ajaran yang dapat membawa kita pada paham radikalisme yang berbahaya.
DAFTAR PUSTAKA
Ulyanelita. 2015. Faktor-faktor penyebab munculnya gerakan radikalisme. diunduh dari http://ulyanelita.blogspot.co.id/2012/12/faktor-faktor-penyebab-munculnya.html. (kamis,2 Desember 2015, Pukul 12.00 WITA)

Islamnesia. 2015. Menguatnya Radikalisme di Indonesia diunduh dari http://islaminesia.com/2015/04/menguatnya-radikalisme-di-indonesia/(jumat,3 Desember 2015,pukul 14.30)

Fauzan, Ahmad. 2015. Membendung  gerakan radikalisme di Indonesia diunduh dari http://www.lsisi.org/membendung-gerakan-radikalisme-di-indonesia/ (jumat,3 Desember 2015,pukul 14.30)

Amin, Rusli. 2003. Menjadi Remaja Sukses. Jakarta: Al-Mawardi Prima.

Shihab, Charis. 2013. 11 Ibadah Yang Mengantar Hidup Sukses dan Penuh Barokah. Mitra Press.

Nasyir, Abdul Wahab bin. 2014. Keseharian Rasulullah. Jakarta: Al-Mahirah.

Majelis Ulama Indonesia Pusat. 2014. Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syi’ah di Indonesia. Jakarta: FORMAS